Maret 27, 2009

Selamanya Seniman Tak Akan Bisa dipasung

Kamis (20/11l) lalu sangat bersinar, matahari begitu terang seakan menyulut semangat para mahasiswa dan mahasiswi Jurusan Bahasa dan Seni UNESA untuk menyerbu gedung pertunjukan Sawunggaling. Gedung yang beralamat di jalan Lakar Santri Lidah Wetan Surabaya bak gula yang didatangi semut, penuh sesak oleh kerumunan mahasiswa yang mengantri di loket untuk menukar tiket masuk. Bukan untuk menonton film melainkan untuk menyaksikan aksi monolog Putu Wijaya. Tak hanya sekedar menonton, mereka juga ingin berdialog dengan Putu Wijaya yang terkenal sebagai seniman dan penulis. Sebagian besar dari mereka mulai mengantri dari pukul 07.00 WIB.

Acara yang dimulai pukul 11 siang ini diawali dengan pertunjukan teater dari komunitas teater ETC ( English Teater Club) . Tak lama kemudian Putu Wijaya dipersilahkan untuk beraksi di panggung yang boleh dikatakan sederhana milik Gedung Sawunggaling. Dengan property minimalis ( level + 2m dan kursi kayu yang diletakkan di atas level tersebut), Putu Wijaya dibantu oleh para personil Teater ETC mementaskan naskah berjudul Poligami (karya Putu Wijaya) dengan apik. Tentu tanpa briefing apalagi latihan bersama, mereka mampu berkolaborasi. Layaknya membacakan dongeng kepada penonton, Putu Wijaya terlihat menggebu-gebu namun tetap mampu memainkan emosi penonton yang memenuhi Gedung Sawunggaling.

Kemeriahan tepuk tangan seluruh penonton Gedung Sawunggaling melengkapi kesuksesan pertunjukkan monolog awal Putu Wijaya. Seusai pertunjukkan, PW ( panggilan akrab Putu Wijaya) langsung menggelar talk show tepat pukul 11.30 WIB. Mengawali dialog, PW mulai menjawab pertanyaan salah satu penonton terkait awal mula monolog. Berawal dari pujian sesembahan yang diucapkan oleh seseorang kepada Dewa. Tak hanya ucapan, pujian- pujian tersebut juga disertai dengan gerak tubuh untuk bercerita. Hingga sekarang dialog yang dilakukan oleh satu orang ini disebut dengan istilah monolog. Monolog yang juga merupakan bagian dari pertunjukkan teater ini berasal dari Yunani.

Menurut PW, teater itu sulit jika dipikir sulit. Makna teater yang selalu dipegang oleh pria yang lahir pada tanggal 11 April 1944 yakni upacara bersama untuk memasuki dunia khayal. Layaknya kita berkhayal, pencarian bentuk suatu cerita yang kita inginkan pun tak sesulit jika hanya dibayangkan. Salah satu kebiasaan PW yakni cerita atau naskah teater terbentuk setelah latihan. Jadi saat latihan itulah cerita dikonstruksikan. Kita tidak perlu terhantui bagaimana bentuk suatu naskah yang nanti akan kita pentaskan. Yang paling penting adalah bagaimana kita membangun imajinasi penonton saat menyaksikan pementasan kita.

Dalam proses latihan pun, monolog atau bahkan teater tidak membutuhkan banyak perlengkapan. Cukup dengan tubuh dan jiwa yang sehat, kita bisa saja memulai untuk berlatih. “Improvisasi saja,” tambahnya.

Kemudian muncul pertanyaan tentang perbedaan istilah monoplay dan monolog. Menurut PW, kedua istilah tersebut maknanya sama, hanya saja kita selalu membenarkan segala sesuatu yang berasal dari Barat, khususnya tentang istilah dan kebudayaan Barat. “Keliru jika kita mempunyai anggapan Barat adalah pembenaran. Hal ini karena kita sebagai bangsa Timur khususnya Indonesia juga mempunyai cara tersendiri untuk berpikir dan berperilaku,” tambahnya.

Proses talkshow bertambah dinamis saat muncul pertanyaan dari salah seorang penonton yang juga aktif dalam dunia Teater, Galuh. Lelaki yang juga terdaftar sebagai mahasiswa fakultas sendratasik jurusan seni pertunjukkan ini menanyakan terkait hadirnya teror mental yang dirasakannya saat menyaksikan pertunjukan monolog Putu. Bagi seniman yang lahir di Puri Anom, Tabanan, Bali ini terror mental jangan dijadikan sebagai hal yang menakutkan. Teror mental dapat berupa banyak hal, misalnya suasana sepi menjadi sangat ramai secara tiba- tiba atau sebaliknya. Selain itu, teror mental juga dapat berupa longlongan anjing di malam hari yang menambah kesunyian malam. Secara fungsional, teror mental yang selalu dihadirkan dalam setiap pementasan Putu, merupakan usaha Putu untuk membalikkan mental spiritualitas baik penonton maupun pemain.

Kemudian muncul pertanyaan dari salah seorang penonton yang berasal dari Kabupaten Blitar. Dia bertanya, bagaimana Putu Wijaya bisa sehebat sekarang. Apa mungkin jika saya bisa tahu lebih dulu tentang monolog sebelum Putu, saya bisa mengalahkan pamor Putu Wijaya? Jika dipahami secara sepintas, pertanyaan ini menggelikan. Seluruh penonton ricuh karena mendengarkannya. Namun PW menyikapinya dengan dewasa. “Ini semua bukan masalah tahu lebih dulu. Melainkan niat dan usaha. Jika kalian ingin mengalahkan saya, kalian harus kerja keras 100x dari saya,” ungkap Putu Wijaya.

Siang ini Putu Wijaya seakan menyalurkan semangat ‘45nya kepada seluruh penonton Gedung Sawunggaling. Sambil menjawab satu persatu pertanyaan yang terlontar dari penonton, PW juga memberikan penggalan- penggalan acting untuk mempertegas pendapatnya terkait karya seni khususnya monolog. Misalnya saat ada salah seorang penonton yang bertanya mengenai pengesahan UU Pornografi apakah bisa membatasi karya seniman?

Dengan tegas, PW mengungkapkan bahwa ia melawan pornografi. “ Semua orang pun melawan pornografi/ pornoaksi. Namun isi UU Pornografi kurang bagus. Di dalamnya terdapat definisi pornografi yang tidak jelas. Pasal- pasalnya pun menimbulkan kerancuan, ambigu", tandasnya. “Selamanya seniman tidak akan bisa dipasung,” tambahnya. Tepuk tangan riuh dan sorak tanda setuju menggema, menggetarkan gedung Sawunggaling. (petruk)

Maret 22, 2009


"Lembar ini disediakan untuk pengunjung blog yang ingin memberikan kesan dan pesan secara pribadi kepada pemilik blog ini dan isinya bebas, asal dibatasi dengan kesopanan dan kesantunan.
Klik Comment di bawah ini untuk memberikan testimoni dan terimakasih atas perhatiannya."



Putu Merdeka Di UNAIR


”Apa sebenarnya hakekat kemerdekaan ? Apa betul kita sudah merdeka ?” Kalimat penggalan tersebut merupakan isi dari pementasan monolog Putu Wijaya yang berjudul Merdeka. Monolog tersebut berbicara tentang makna merdeka dan kemerdekaan yang sudah ditafsirkan dengan berbagai cara sehingga hasilnya berbeda bahkan bertentangan. Pentas dimainkan dengan dua karakter, yaitu kakek dan cucu. Lelaki tua yang memakai tongkat itu memelihara burung perkutut yang sehari-hari menjadi temnannya. Sedangkan cucunya duduk di sekolah dasar yang ingin selalu tahu tentang kemerdekaan. Berkali-kali sang cucu bertanya kepada kakeknya dan sang kakekpun menjawab dengan memberikan penjelasan tentang kemerdekaan bangsa ini. Dengan rasa ingin tahu yang cukup tinggi, cucunya selalu menyodorkan berbagi pertanyaan, hingga kakek seakan tidak percaya kalau anak sekecil cucunya itu punya pemikiran-pemikiran layaknya orang dewasa. Berbagai pertanyaan tersebut membuat sang kakek berpikir ulang tentang arti kemerdekaan yang benar-benar mutlak.

Pementasan yang berlangsung sekitar 60 menit itu diadakan di Universitas Airlangga untuk memperingati Dies Natalis yang ke 54. Pentas monolog itu dipadati oleh puluhan penonton yang sangat antusias menyaksikan penampilan teaterawan terkemuka di negara kita ini. Sebelum di Surabaya, monolog ini juga pernah dimainkan di beberapa kota di Indonesia, diantaranya Jakarta, Bandung, Bogor, Yogyakarta, Malang, Singaraja, Sumba, Timor, Padang, Makassar, Kalimantan Timur. Tak hanya di dalam negeri, pentas ini juga telah keliling dari beberapa negara, Brunei Darussalam, Malaysia, Afrika Selatan, Belanda, Karibia, Suriname.

PW (panggilan akrab Putu Wijaya) tak hanya bermain sendiri, tetapi ia juga mengajak para penonton berkomunikasi di sela-sela pementasannya. Bahkan ada suatu adegan yang tidak ada dalam naskah yakni PW berdiri membelakangi penonton dengan terus berdialog dan tiba-tiba ia memegang kain putih lalu BRUAAKKK...ternyata PW terjatuh dari panggung. Kejadian tersebut membuat penonton tertawa terbahak-bahak karena hal itu disangka salah satu adegan dalam naskah Merdeka. Dan PW bergegas bangun dengan ditolong salah satu panitia yang ada di belakang, lalu dengan cepat ia menanggapi reaksi penonton, antara marah dan tidak ia mengatakan, ”Loh kok pada ketawa? Itu tadi tidak termasuk dalam naskah, saya tadi jatuh beneran, tanyain mas yang nolong saya tadi,” tegasnya. Setelah itu pementasan berjalan lagi dan PW tetap asyik menyelesaikan monolognya hinngga tuntas dan sempat pula menerbangkan burung-burung merpati putih sebagai tanda kemerdekaan bagi burung tersebut.(Jengking)

Maret 20, 2009

D’ creeps VS LeKeR


apa beda D’creeps sama Leker ?

menurutku :
  1. bentuknya sama- bulat
  2. buatnya d loyang
  3. harganya beda yang D’creeps > 6.000 Rp , lekeR 5.000 Rp-tp Lbih mengenyangkan
  4. bahan utama sama, tapi isi beda : D’ creeps - ada yg isi daging sayur, ice cream, LeKeR - masih kurang variatip isinya pisang, gula , + krim cokelat, + yg paling baru dtambahin .
  5. desain kemasan nya beda , D’creeps - segitiga mirip bungkus pizza 1potong dr kertas karton, terang bulan kertas minyak + koran + kresek, leker cuma tas plastik (kresek) hitam.
  6. penjualnya juga beda , klo D’creeps - pake kostum lucu warna ungu kuning, klo pejual LekeR ato teRang BuLan pake baju warna warni alias baju bebas.

pertanyaannya, mana yang lebih dulu muncul -D’creeps /leKeR / terang BuLan ?

siapa tahu ?


terang buLan
Desember 26th, 2008

24 jam selalu terulang, cinta selalu membuatku bimbang


mengapa hanya 24 jam dalam sehari ?

sementara banyak agenda-agenda yang belum terlaksana

mengapa hanya hari ini aku di bumi

tanpa mengelilingi

jagat raya yang indah ini

aku pun terbangun dari lelap ku

lalu melangkah dan melaju

,,sinar mentari yang tak pernah lupa

untuk menyambut manusia didunia

hari ku tak pernah sepi

oleh pikirku yang menyendiri

dengan karyaku yang berwarna-warni

tapi cinta,

masih belum kutemukan

hatiku bungkam

karena yang kutemui -hanya ku kagumi

tak ingin kumiliki

tak ingin ku cintai

pagi,


_arsa bunga_
Nopember 11th, 2008

Bertahan dengan pesonanya

Dalam sebuah kehidupan ada kalanya kita di tuntut untuk melakukan suatu hal yang mungkin bisa di luar batas pemikiran orang lain atau bisa dikatakan tidak banyak orang yang akan tahu dengan maksud kita. sama halnya dalam pertunjukan seni teater, ada suatu pesan yang akan di sampaikan lewat berbagai bentuk dalam hal penyampaiannya, dengan penawaran yang dilakukan sang sutradara terkadang teater bisa menimbulkan banyak persepsi karena banyak ideologi yang terjaring di dalam sebuah pertunjukan teater.

Dalam proses sebuah pertunjukan teater bukan hanya menuntut sang aktor atau aktris serta pelaku yang ada di dalamnya untuk mengemas pertunjukan dengan rapi dan indah sesuai dengan keinginan sang sutradara, meski teater semata hanya sebuah akting yang di pertunjukkan dalam panggung tetapi harus tetap ada kaseriusan dalam hal penggarapannya, karena tolak ukur keberhasilan sebuah pertunjukan teater dimana suatu ide gagasan, serta suatu pesan yang di inginkan sutradara bisa sepenuhnya sampai ke penonton, sangat menarik dan tentu berkaitan dengan motto yang sampai sekarang masih digunakan oleh teater US.

Kenapa teater US? Ketika seseorang menapaki jalan masuk menuju kantin universitas surabaya (UBAYA), akan tampak sebuah bangunan berpetak dan memanjang disana kita bisa menemukan berbagai UKM (unit kerja mahasiswa) yang selalu ramai dalam berbagai aktifitasnya, lalu akan anda temukan UKM teater US yang tentunya bergerak dalam kesenian dan khususnya seni teater.

Berawal dari sebuah komunitas yang di pelopori oleh Anwar Subari dkk dan pada tahun itu juga US jadi sebuah UKM di universitas surabaya (UBAYA), tepatnya pada 14 april 1994. Dimana mengusung motto “teater bersungguh – sungguh bukan berpura – pura dan bermain bukan bermain – main, karena teater terdapat banyak kesungguhan di dalamnya dan bukan hanya semata sebuah permainan”, imbuh heidy salah satu anggota US.

Mengingat sebuah organisasi belum lengkap bilamana tidak mempunyai sebuah lambang akhirnya tercetus pemikiran sebuah lambang yaitu dua sosok wajah manusia dimana ada sosok laki – laki dan perempuan yang berdampingan dengan ekspresi bahagia dan sedih. dengan kegigihan yang di usung pendahulu US maka setelah berjalan selama dua tahun akhirnya US menggunakan format diklat dalam pencarian anggotanya. (ateng)

Semanggi, Tak Pernah Berhenti

Tentu masih segar dalam ingatan kita pada tahun 1998, banyak terjadi kerusuhan di pelosok negeri ini. Tragedi semanggi, dimana para demonstran bentrok dengan aparat. Hal inilah yang memotivasi terbentuknya Teater Semanggi dari beberapa Mahasiswa pecinta seni teater di Kampus Sekolah Tinggi Ilmu Komputer (STIKOMP) Surabaya. Teater Semanggi merupakan wadah bagi mahasiswa STIKOMP untuk berkesenian dan berkarya.

Seklumit kalimat diatas, tentu membuat kita tahu akan alasan dipilihnya nama Semanggi, sebagai sebutan organisasi Teater ini. Ya, jawabannya memang karena pada waktu sedang terjadi tragedy semanggi. Lalu apa kesan menarik apa yang membuat nama Semanggi dinobatkan sebagai julukan komunitas teater di kampus ini?.

Kala itu, bertepatan dengan tragedy Semanggi mahasiswa jurusan system computer di STIKOMP sedang membentuk komunitas teater, maka diangkatlah nama Semanggi. Dalam prosesnya teater ini mengalami beberapa tingkatan apik. Pada tanggal 12 Mei 1998 Teater Semanggi masih terbentuk sebagai komunitas. Namun, tak berlangsung lama setelah itu, tepatnya tanggal 19 Mei 1998 Teater Semanggi menasbihkan dirinya sebagai Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM).

Dari situ, terbentuklah lambang Teater Semanggi yang terdiri dari lambang STIKOMP berkolaborasi dengan daun semanggi. Setelah nama, filosofi, dan lambang sudah terbentuk, para anggota teater ini mulai serius memikirkan struktur kepengurusan teater Semanggi.

Keseriusan itu tak berhenti pada penyusunan kepengurusan, namun juga kesriusan dalam berseni teater. Dalam prosesnya, Teater Semanggi mewajibkan anggota-anggotanya untuk mengikuti latihan rutin yang dilakukan pada hari Sabtu pukul 11 siang.

Pemateri saat latihan rutin langsung diambil alih oleh senior-senior di teater Semanggi, namun terkadang mereka juga mendatangkan pemateri dari komunitas teater luar, seperti Teater Alib. Saat ini total anggota Teater Semanggi berjumlah 50 mahasiwa, namun anggota yang masih aktif 12- 13 mahasiswa. Layaknya komunitas teater kampus yang lain, syarat untuk menjadi anggota Teater Semanggi harus terdaftar sebagai mahasiswa STIKOMP dan mengikuti diklat teater.

Pada perjalanannya hingga kini, Teater Semanggi sukses menggelar beberapa pementasan, diantaranya Samar- Samar Gay, Panci Wajan Panci, Kereta Ilusi, Dunia Wanita, Kaca-Kaca, dll. Dan yang terakhir, Teater Semanggi mengadakan lomba Teater Pelajar Surabaya, yang diikuti oleh pelajar SMU se- Surabaya.

Pada tahun 2008 kemarin Teater Semanggi mengadakan pementasan untuk memperingati hari jadi Teater Semanggi yang ke-10. tentu saja, dalam usianya yang semakin dewasa itu membuat teater Semanggi semakin bersemangat membuat karya seni yang lebih bernilai. (Wereng)